Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 November 2013

resensi Surat Kecil Untuk Tuhan karya Agnes Davonar

Sobat Aekerz,
gimana kalau sekali-kali membaca kisah nyata dan menyedihkan ini?
berikut adalah resensi SKUT (Surat Kecil Untuk Tuhan) yang terkenal sangat menyedihkan karya Agnes Davonar
 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kisah Nyata Gadis Berusia 13 Tahun Bertahan Hidup Dari Kanker Ganas Paling Mematikan Di Dunia
Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.
Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku,
Terjadi pada orang lain
Cuplikan di atas adalah sepenggal bait dari tulisan Keke, seorang penderita kanker ganas yang menyerang bagian wajah, Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak pertama di Indonesia. Keke atau Gita Sesa Wanda Cantika adalah seorang gadis remaja berusia 13 tahun ketika divonis memiliki penyakit kanker mematikan tersebut yang dapat membunuhnya dalam waktu 5 hari. Kanker jaringan lunak itu menggerogoti bagian wajahnya sehingga terlihat buruk menjadi seperti monster. Walau dalam keadaan sulit, Keke terus berjuang untuk tetap hidup dan tetap bersekolah layaknya gadis normal lainnya.


Mendengar vonis tersebut, sang Ayah, Joddy Tri Aprianto tidak menyerah. Ia terus berjuang agar sang putri kesayangannya itu dapat terlepas dari vonis kematiannya. Perjuangan sang ayah dalam menyelamatkan putrinya tersebut begitu mengharukan.Perjuangan panjang Keke dalam melawan kanker ternyata membuahkan hasil. Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama. Keberhasilan Dokter Indonesia dalam menyembuhkan kasus kanker yang baru pertama kali terjadi di Indonesia ini menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua dokter di dunia bertanya-tanya.
Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan sesaat. Keke sadar jika nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia justru bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya, walau pada akhirnya ia harus menyerah. Dokter pun akhirnya menyerah terhadap kankernya. Di nafasnya terakhir itulah ia menuliskan sebuah surat kecil untuk Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada lagi air mata di dunia ini terjadi padanya, terjadi pada siapapun.


Hingga pada tanggal 25 Desember 2006, Keke menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 11 malam. Tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Namun kisahnya menjadi abadi. Ribuan air mata berjatuhan ketika biografi pertamanya ini dikeluarkan secara online. Pesan Keke terhadap dunia berhasil menyadarkan bahwa segala cobaan yang diberikan Tuhan adalah sebuah keharusan yang harus dijalankan dengan rasa syukur dan beriman.
Kisah perjuangan Keke ini pun sempat diulas dalam acara Kick Andy di Metro TV. Sebelumnya buku ini diterbitkan secara online oleh penulis, Agnes Davonar dan dibaca lebih dari 350.000 pengunjung. Namun, karena banyaknya pembaca yang terinspirasi oleh kisah ini, akhirnya buku ini dicetak secara luas dan terjual lebih dari 30.000 exemplar dalam waktu dua bulan dan telah diterbitkan pula di Taiwan dengan mencetak sukses yang sama.
Kisah Keke yang telah memasuki cetakan ketujuh ini pun akhirnya menginspirasi Skylar Pictures untuk mewujudkan pesan dan perjuanganya tersebut kepada dunia lewat layar lebar.




source: animasku.com
Baca Selengkapnya

sinopsis Pegasus karya Robin McKinley

Pegasus, mahkluk mitologis ini selalu berhasil mempesona imajinasi manusia sejak zaman dahulu kala. Mahkluk ajaib yang dalam bahasa Indonesia sering disebut juga sebagai kuda sembrani ini mungkin muncul dalam pikiran orang-orang dahulu yang begitu mendambakan sesosok binatang yang bisa berlari cepat sekaligus terbang. Jadilah mereka menggabungkan dua binatang yang sangat mereka kagumi: kuda dan burung. Dalam Pegasus, Robin McKinley menegaskan kembali mengenai kecintaan manusia terhadap mahkluk yang satu ini. Dia menyusun sebuah cerita, lebih tepatnya sebuah kronik karena cerita dalam buku ini begitu panjangnya, begitu mendetailnya, dan juga begitu deskriptif. Dalam satu hal, novel ini adalah penggambarann lebih lanjut dan lebih lengkap mengenai sosok Pegasus menurut imajinasi penulis.

                Dalam Pegasus, dikisahkan manusia telah menjalin hubungan persahabatan dengan para Pegasus. Hubungan ini dimulai ketika rombongan pertama manusia datang ke Tanah Perawan yang kala itu menjadi alam liar tempat mahhluk Pegasus biasa mencari makan. Saat itu, Pegasus begitu rentan akan serangan makhluk-mahkluk seperti ladon, wyvern, taralian, dan norindour. Meskipun cerdas luar biasa, kaum Pegasus adalah mangsa empuk dari mahkluk-makhluk jahat tersebut, dan akibatnya populasi mereka pun semakin berkurang. Dengan datangnya manusia ke Tanah Perawan, kedua kaum pun saling bekerja sama. Manusia dengan senjata dan kemapuan tempurnya akan menghalau dan membasmi para predator Pegasus sementara kaum Pegasus mengizinkan manusia untuk mengelola Tanah Perawan. Sejak saat itu, berdirilah kerajaan Basiland.
               
                Untuk memperkokoh ikatan antara kedua ras, maka diputuskan untuk memasangkan setiap anggota kerajaan Basiland dengan seekor Pegasus. Raja Basiland otomatis akan dipasangkan dengan Raja  Pegasus. Keduanya kemudian akan selalu bersama-sama, dalam perang, perjalanan, maupun urusan kerajaan. Karena menggunakan bahasa yang berbeda, komunikasi antara manusia dan Pegasus pasangannya dilakukan melalui perantaraan seorang penyihir manusia atau syaman Pegasus, walaupun komunikasi yang dilakukan hanya mencapai kurang dari 20 persen. Agaknya, hubungan tersebut masih belum bisa berlangsung lancar, hanya via gerak-gerik dan isyarat saja.

                Ikatan dan hubungan isyarat seperti ini berlangsung selama kurang lebih 800 tahun sejak Kerajaan Basiland berdiri. Hingga, tibalah waktu ketika Putri Sylviianel untuk dipasangkan dengan Pegasus pasangannya. Pada hari pemasangan, sejenak setelah para penyihir dan syaman mengadakan ritual pemasangan, ia tiba-tiba bisa berbicara dengan Pegasus pasangannya yang bernama Ebon. Ini adalah sesuatu yang luar biasa, di luar kebiasaan, sekaligus berbahaya. Sudah ratusan tahun sejak ada orang pertama yang mengaku bisa mendengarkan atau berkomunikasi langsung dengan Pegasus pasangangnya. Selama ini, komunikasi antara kedua ras diperantarai oleh penyihir. Tapi, baik Silvi atau Ebon masing-masing bisa berbicara dan mendengar sejelas berbicara melalui telepati. Dan, dimulailah kegemparan itu.  Para penyihir marah, mereka menyusun intrik untuk melarang Silvi dna Ebon agar tidak saling berkomunikasi karena manusia dan Pegasus seharusnya tidak bisa saling berbicara. Tapi, Silvi menolak dan tetap maju.

                Maka, dimulailah petualangan Silvi dan Ebon. Persahabatan mereka yang erat merupakan perlambang eratnya hubungan manusia dengan kaum Pegasus. Keduanya bahkan sering terbang bersama, walau itu dilarang. Pada akhirnya, hubungan keduanya begitu dekat sehingga Silvi pun mendapat kehormatan besar yang bahkan belum pernah didapatkan oleh orang-orang sebelumnya, yakni mengunjungi negeri Pegasus. Apakah yang akan ia jumpai di sana? Apakah kenyataan di sana seindah yang ia bayangkan? Bagaimana pula dengan kaum penyihir? Apa yang akan Silvi lakukan demi mempertahankan persahabatan uniknya dengan Ebon? Semua dijawab dalam novel indah ini.

                Bersetting disebuah negeri antah berantah, novel Pegasus adalah novel yang luar biasa indah dan detail. Kekayaan detailnyalah yang sangat mengagumkan. Penulis berhasil mengeksplore mahkluk mitologis ini dan menjadikannya lebih manusiawi. Bahwa Pegasus punya tangan kecil di ujung sayapnya, bahwa mereka lebih kecil dari kuda, dan bahwa Pegasus sangat dilarang untuk ditunggangi oleh manusia; pengetahuan-pengetahuan seperti ini yang belum kita ketahui. Penulis juga mampu menggambarkan segala ritual dan prosesi di Kerajaan basiland dengan begitu detail, mulai dari acara penobatan, sistem politik istana, sejarah dan kronik bangsa manusia dan Pegasus, hingga rahasia-rahasia paling dalam dari mahkluk mitologis yang satu ini.

                Sayangnya, alur novel ini agak datar dan bisa-bisa membuat bosan para pembaca yang tidak sabaran. Meskipun menawarkan premis yang menarik, buku ini lebih menyerupai sebuah buku roman fantasi ketimbang buku petualangann fantasi. Adegan perangnya sangat minim! Untungnya, keindahan dan detail yang dipaparkan penulisnya, yang disebar merata dalam seluruh isi buku, akan mempesona pembaca. Buku ini ibarat sebuah pintu menuju dunia lain yang sangat eksotis dan indah, indah dan juga detail. Salut juga untuk sang penerjemah yang berhasil menghadirkan novel ini dalam bahasa Indonesia yang sangat luwes sekali. Rupanya, beliau memilih untuk mengambil padanan alih-alih menyerap langsung beberapa kata dalam novel aslinya. Alhasil, jadilah kita mendapati kata-kata unik dan cantik seperti paseban, balai agung, dan tabik. Novel ini juga minim typho. Selamat untuk penerjemahan yang bagus dari buku cantik ini.


source: dionyulianto.blogspot.com
Baca Selengkapnya

Sinopsis Negeri 5 Menara

sobat Aekerz,
udah pernah dengar kan novel yang berjudul negeri 5 menara, yang katanya ngetrend itu loh,
oke jika masih ingin mengetahui inti sari dari novel tersebut silahkan baca isinya:
----------------
Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan tentu mandi berkecipak di air biru Danau Maninjau.

Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera” sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses.

Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak menggigau dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.


source: menjaga-bumi.blogspot.com
Baca Selengkapnya

cerpen "Bengawan Solo" Karya Danarto

Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Semalam, saya berkelahi melawan Pak Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. Saya terjerembab tak sadarkan diri. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. Ada yang sibuk mencarikan minuman panas. Ada yang mau memanggil dokter. Ada yang memijit. Malam itu, karena peristiwa itu, penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa, tidak penting untuk dipersoalkan. Tapi, apa pun yang terjadi, kami, penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon, telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Nining, gadis kecil hitam manis tujuh tahun, memang milik Pak Darkin, meski hanya sebagai ayah tirinya.
Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. Ibunya, yang selalu membela putri kandungnya itu, sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. Pada suatu malam, dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. Kami menyambutnya dengan sukacita. Di dalam gerombolan kami itulah, Nining merasa aman dan nyaman.
Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah, saya hidup. Sehari-harinya saya pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang berserakan di mana-mana. Saya ditemani kompor minyak tanah, teko, panci, gelas, piring, sendok garpu, ember, dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak.
Kemudian satu-dua anak datang dan pergi, mereka belajar apa saja, juga memasak, rame-rame makan, dan tidur. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak gelandangan, pengamen, pengemis, pemulung, anak baik-baik yang tidak betah di rumah karena berbagai alasan. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan lalu mengatur mereka dengan marah-marah, lelah, dan sedih, sejak tahun 1997.
Sebagai tukang sapu pasar, saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak itu. Untung, beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu menulis, menyanyi, membaca, dan bercocok tanam. Setiap minggu, anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri, juga cerpen, esai, dan menyanyikan lagu yang ditulisnya sendiri. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah, Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul, tindih-menindih. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. Sayup-sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya.
Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Setiap habis gajian, tak ada sisa sama sekali, bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Tapi, yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. Pedagang beras menyumbang beras. Pedagang sayur menyumbang sayur. Pedagang ikan menyumbang ikan. Bumbu-bumbu dapur rasanya tak pernah kehabisan.
Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur, tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. Ternyata tidak hanya beras, juga minyak goreng beberapa botol, telor beberapa kilo, gula, kopi, teh, beberapa ekor daging ayam segar. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung, kaus oblong, dan peralatan mandi. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu.
Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. Hari itu kami masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Anak-anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. Aduh, meriahnya. Aduh, bahagianya. Sayang sekali, Nining tidak bersama kami. Tapi, kami sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau kami akan bersedih sepanjang masa.
Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Ia meradang.
”Kamu sembunyikan Nining di mana!”
Saya tak bisa menjawab. Bernapas saja sangat sulit. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya.
”Saya tidak tahu,” jawab saya.
”Mau kamu saya bikin modar!”
”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining.”
”Bohong!”
”Kalau memang Nining hilang, saya bisa membantu mencarinya.”
”Sontoloyo!”
Saya terbatuk-batuk. Saya diseretnya keluar. Saya heran, tak seorang pun anak yang terbangun. Saya digelandang terus. Sesampai di jalan raya, saya dinaikkan ke becak. Pak Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Rupanya saya dibawa ke sebuah pekuburan yang gelap gulita. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya, membanting dan membalut dengan kain kafan.
”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya.
Saya tak bisa bergerak, ketat sekali balutannya, membujur kaku bagai jenazah.
Tiba-tiba:
”Pak Totok,” suara seorang gadis membisik, ”Saya Nining.”
”Mengapa kamu di sini?” sergah saya.
”Saya menunggu Bapak,” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya.
”Dari mana kamu tahu saya di sini?”
”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari.”
”Sekarang beliau di mana?”
”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo.”
”Wah, gawat!”
Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Itulah jalan spiritualnya.
Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. Maka semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu mengiriminya duit. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini, kalian akan menangis terus-menerus sepanjang hidup kalian.
Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. Tidak bergaul, tidak menerima santri, tidak mengajar, tidak mau diwawancara, tidak mau diundang makan. Pokoknya serba tidak. Saya sadar, semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu, merupakan sumbangan Kiai Kintir. Beliau selalu bisa membahagiakan orang, sedang untuk dirinya sendiri, beliau tidak berniat sedikit pun. Cerita lainnya adalah, pernah sejumlah wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. Ternyata wajah beliau tidak terekam, yang muncul hanya gelap gulita. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo, itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu.
Sejak dini hari, ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai, hanyut dibawa arus. Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian, diam mengambang hanyut seperti mayat. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. Sampai fajar merekah, rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Tak ada seorang pun yang berucap. Semuanya diam. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar, bisa-bisa Kiai Kintir tenggelam, begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikin-bikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Dari jauh, Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang.
Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Tak terdengar geledek. Tak terjadi gerimis. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. Tampak tubuh Kiai Kintir telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Satu-dua orang penonton terseret ke tengah bengawan. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Sesampai di jalan raya, banjir sudah melahap seluruh kota Solo. Mobil, motor, andong, becak ditinggalkan pemiliknya. Sejauh mata memandang, cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri.
Tangerang, 17 Maret 2008
Banjir di Pasar Kliwon, Solo Baru, Semanggi, Joyontakan.



source: cerpenkompas.wordpress.com
Baca Selengkapnya